Tampilkan postingan dengan label campur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label campur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2009

Kiamat 2012 ...Bener ga yaa???


L Wilardjo
Hari Selasa (13/10/2009) lalu, ada e-mail masuk dari seseorang berinisial STP.

Bunyi pesan itu: Pak Liek, saya membaca artikel di ”eramuslim”, ada kalimat berikut, ”Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak, bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung”. Apa yang dimaksud medan magnet bumi mulai retak? Apa pendapat Pak Liek tentang ramalan 2012 oleh suku Maya?

E-mail itu saya jawab singkat. Saya katakan, yang bisa retak ialah benda padat. Zat cair tidak retak. Gas juga tidak. Apalagi medan magnet, yang abstrak.

Keesokan harinya, Kompas menyajikan tulisan ”Kiamat Tahun 2012 Dibantah”. Dikatakan, Apolinaro Chile Pixtun, tetua Indian dari suku Maya asal Guatemala, menyatakan, berita bahwa menurut kalender Maya kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 adalah tidak benar.



Setelah saya cek di internet, tulisan yang sebagian dikutip STP itu memang ada. Ramalan Kiamat 2012 bahkan dikait-kaitkan dengan ramalan suku-suku lain, dengan buku China kuno, I Ching, dan dengan peristiwa serta kegiatan orang dewasa ini. Namun juga dinyatakan, menurut Islam, meski kiamat tidak bisa dihindarkan, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Lalu tulisan itu ditutup dengan: ”Wallahu’alam bishawab”.
Retak atau bolong?

”...Medan magnet bumi... retak... sampai sebesar kota (sic) California....” Retak itu hanya dapat dikatakan pada (permukaan) benda padat yang patah beralur memanjang, tetapi kedua bagian di sebelah-menyebelah alur itu tidak terlepas. Tidak ada retakan sebesar negara bagian California. Kalau ada, itu bukan retak namanya, tetapi berlubang.

Yang dikatakan berlubang bukan medan magnet bumi, tetapi ozonosfer, lapisan atmosfer (20-26 kilometer di atas permukaan laut) yang kaya dengan gas O3. Karena ulah manusia menghamburkan CFC (senyawa khloro-fluoro-karbon), radikal bebas hasil penguraian CFC itu, yakni Cl dan ClO, ”merampok” atom O (oksigen) dari molekul O3 (ozon).

Maka, ozon itu menjadi O2 (molekul oksigen). Pupuk juga melepaskan N2O, yang terurai oleh foton menjadi NO. Juga ada radikal bebas lain, yakni OH. Semuanya suka menyerobot O dari ozon. Padahal, ozonlah yang mampu menamengi bumi dari ”sengatan” sinar ultraungu (UV>ultraviolet). Di antara UV-A, UV-B, dan UV-C, yang paling berbahaya ialah UV-B (290-320 nanometer) sebab energinya sudah cukup tinggi, sedangkan intensitasnya dalam spektrum sinar matahari juga masih lumayan. Yang dirusak ialah kristalin alfa, yakni protein lensa bola mata dan DNA, terutama basanya, yakni [T (thymine), C (cytosine), A (adenine), dan G (guanine)] dengan akibat kanker kulit.

Medan magnet retak?
Ini sulit dipahami. Jika retak, berarti medan magnet bumi yang ”garis-garis”-nya membujur (meridional) dari Kutub Utara (-nya medan geomagnetik) ke Kutub Selatannya terputus di (beberapa) lokasi tertentu. James Clerc Maxwell (di kuburannya, kalau bisa) akan marah sebab, menurut dia, tidak ada magnet berkutub tunggal (monopole). Medan magnet selalu ”temu gelang”, keluar dari Kutub Utara, lalu bisa ”mengembara” ke mana-mana, tetapi akhirnya harus masuk kembali ke Kutub Selatan. Jadi, medan magnet tak dapat terputus. Mengatakan bahwa medan magnet bumi retak sebesar California di sana-sini terasa ”absurd”.

Radiasi?


Juga dikatakan, ”medan magnet bumi merupakan pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari”. Sinar matahari adalah gelombang elektromagnetik yang dalam pandangan kuantum berupa zarah-zarah (particles) yang disebut foton. Foton itu netral (tidak bermuatan elektrik). Padahal, medan elektromagnetik, khususnya komponen magnetik, hanya membelokkan gerak zarah yang bermuatan.
Jadi, medan magnet tidak bisa menjadi pertahanan bumi terhadap radiasi sinar matahari. Memang ada zarah-zarah energetik yang disebut sinar kosmos. Sinar ini berasal dari ruang angkasa luar, mungkin dari bintang-bintang, termasuk matahari. Indikasi bahwa matahari juga melepas sinar kosmos tampak pada rapat elektron dalam plasma ionosfer (400-900 kilometer di atas permukaan laut), yang lebih tinggi pada siang hari ketimbang pada malam hari.

Ionosasi itu terjadi karena atom/molekul di atas sana dibentur zarah-zarah dari luar bumi. Sebagian zarah-zarah sinar kosmos ini dibelokkan oleh medan geomagnetik. Namun, mereka sedemikian energik sehingga tetap ada yang mampu ”menghujani” bumi. Untung intensitasnya rendah sekali sehingga tidak berbahaya. Dalam pengukuran aktivitas cuplikan (sample) radioaktif, sinar kosmos itu hanya dianggap sebagai bagian radiasi latar (background radiation).
L Wilardjo Guru Besar Ilmu Fisika Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

sumber : www.cetak.kompas.com 




Orang Bodoh yang Beruntung... :D



Gede Prama
Bagi sejumlah orang pintar yang menganggap dirinya layak menjadi menteri, bulan Oktober 2009 adalah bulan mendebarkan. Ada yang mulai menghitung kancing: dipilih, tidak, dipilih, tidak.

Andaikan rambu-rambu etika memungkinkan, bisa jadi banyak calon menteri akan meniru calon anggota legislatif yang memasang iklan: ”pilih saya karena lebih pintar”. 0rangtua juga serupa, tidak ada yang berdoa agar anaknya bodoh kelak.

Ribuan tahun lalu, saat manusia mulai mengagumi kepintaran, tidak terbayangkan jika kepintaran akan bersahabat dengan kehancuran. Perhatikan skandal-skandal besar yang mengguncang dunia, teror, dan perang yang memakan banyak nyawa manusia, tidak ada yang dilakukan orang-orang desa yang ”bodoh”. Semua diotaki orang kota yang berpendidikan tinggi.
Dari sini, terlalu dini menyimpulkan bahwa kepintaran itu berbahaya. Orang pintar berperilaku jahat ada, orang pintar dengan perilaku menyentuh juga ada. Pertanyaannya, mengapa kepintaran kian bersahabat dengan kelicikan dan keruntuhan?

Perhatikan sebagian percakapan di antara orang-orang pintar. Begitu kepentingannya tidak terpenuhi, dicarilah argumen yang bisa meruntuhkan orang lain. Sebaliknya, jika kepentingannya terakomodasi, pendapat yang diungkapkan cenderung yang mendukung. Maka di Barat terjadi keruntuhan kepercayaan besar-besaran terhadap orang pintar yang membuka pintu pada munculnya budaya tanding. Sekaligus menghadirkan dahaga mendalam akan kebijaksanaan Timur yang berisi kejujuran, ketulusan, dan kerendahhatian.

Di Timur gejala ke arah itu ada. Thailand adalah sebuah guru. Munculnya orang pintar seperti Thaksin Shinawatra sempat mencuatkan kemajuan sebentar. Namun, sebagaimana perilaku kepintaran yang mengundang kepintaran lain untuk melawan, Thaksin diturunkan oleh dugaan skandal, diikuti berkali-kali kekacauan yang menakutkan. Malaysia dengan cerita Anwar Ibrahim, Iran yang memanas pascapemilihan presiden, Madagaskar yang ditandai banyak kudeta, hanya sebagian gejala yang mungkin membukakan datangnya budaya tanding di Timur.

Karena itu, tanpa persiapan dan kepekaan cukup, Indonesia berpotensi dikacaukan oleh hadirnya budaya tanding. Perhatikan orang-orang pintar yang diberi kesempatan oleh reformasi untuk mengubah keadaan di birokrasi. Sebagian keluar dari gelanggang tanpa tanda-tanda kemenangan. Sebagian kecil masuk lembaga pemasyarakatan karena terjaring perkara korupsi. Melihat kecenderungan ini, menakuti kepintaran bukan jalan keluar yang disarankan.
 
Suara kebijaksanaan
Tetua di Jawa punya pesan indah sekaligus menggugah. Orang bodoh kalah sama yang pintar. Manusia pintar ditaklukkan oleh orang licik. Namun, ada jenis manusia yang tidak bisa ditaklukkan oleh kelicikan, yakni orang beruntung. Mungkin itu sebabnya tersisa banyak orang Jawa yang senantiasa beruntung. Bila kecelakaan patah tulang, untung patah tidak mati. Jika mati, untung mati tidak cacat.

Bagi sejumlah orang pintar, cara memandang kehidupan yang penuh keberuntungan seperti ini mudah diberi judul tolol. Ada yang mengejek dengan tawa. Namun, bagi penekun kebijaksanaan, wajah kehidupan yang penuh keberuntungan adalah tanda-tanda jauhnya penggalian seseorang ke dalam dirinya.

Pertama, ia menjadi pertanda bertekuk lututnya hawa nafsu yang mau semua serba sempurna.
Kedua, terbukanya pintu kehidupan yang jauh lebih luas dari sekadar mementingkan diri.
Ketiga, seperti anak ayam yang keluar bebas dari telur, demikian juga manusia yang melihat keberuntungan di mana-mana. Ia sudah terbebas. Setidaknya terbebas dari kepintaran yang picik, sekaligus kelicikan yang tidak mendidik.

Maka ada yang berpesan, bila anak ayam dipenjara kulit telur, manusia dikerangkeng oleh kepicikannya. Perbedaan antara yang tercerahkan dan yang tak tercerahkan adalah perbedaan antara keterbukaan dan kepicikan, demikian kira-kira bunyi pesan aslinya. Untuk itu, banyak kursi birokrasi sekaligus korporasi yang rindu sekaligus lapar akan orang-orang bodoh yang beruntung (baca: keseharian yang bersahabatkan pelayanan dan keterbukaan. Beruntung karena keterbukaan dan pelayanan mudah sekali menghadiahkan kebahagiaan).

Bagi sebagian orang pintar, pelayanan hanya pekerjaan orang rendah. Keterbukaan pikiran kerap dicaci dengan ketiadaan sikap. Ini bisa terjadi karena kepintaran menghargai diri amat tinggi, meletakkan pelayanan sebagai sesuatu yang rendah. Kepintaran membuat kotak. Yang cocok dengan kotak jadi teman, yang tidak cocok disebut musuh.

Padahal, sebagaimana dialami bersama, kehidupan bergerak tanpa kotak. Seperti melihat Indonesia, bila ukuran yang digunakan adalah Singapura, apalagi China, Indonesia hanya negara yang tidak diurus. Bila acuannya adalah negara-negara yang baru mengenal telepon genggam seperti Afganistan, Kamboja yang ibu kotanya berisi sedikit lampu pengatur lalu lintas, apalagi sebagian Afrika yang harapan hidupnya 39 tahun, Indonesia memiliki banyak hal yang layak disyukuri. Keinginan maju selalu menggunakan yang lebih tinggi sebagai pembanding. Namun, seperti mobil yang dipaksa berlari kencang, di suatu tanjakan, akan terbakar. Tanda-tanda akan terbakar mulai terlihat. Bom teroris, pengerdilan Komisi Pemberantasan Korupsi, orang menekuni hukum bukan untuk diikuti, tetapi untuk dicari celahnya.

Di tanjakan-tanjakan yang nyaris terbakar, energi panas kepintaran memerlukan kesejukan air kebijaksanaan. Bekerja, belajar, dan berdoa tentu terus dilakukan karena ini yang membuat kehidupan berputar. Namun, menarik udara segar kehidupan melalui pelayanan dan keterbukaan amat membantu dalam membuat kehidupan agar tidak terbakar. Seorang sahabat bodoh yang beruntung pernah mengirimkan pesan singkat: ”sebagaimana air yang sejuk dan lembut senantiasa mengalir ke tempat-tempat rendah, demikian juga dengan orang-orang yang rendah hati, kesehariannya juga sejuk dan lembut”.
 
Gede Prama Penulis Buku Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into The Ultimate Healing

sumber : www.cetak.kompas.com


Minggu, 27 September 2009

nyoba posting

beberapa waktu yang lalu pernah punya beberapa blog.. tapi isinya kurang bermutu.. jadi kalo ga suka ya buat yang baru lagi buat yang baru lagi.. cape sih ,,, tapi kadang bisa ngilangin boring juga.. jarak ke warnet yang lumayan dari rumah,, buat males ngeupdate isi materi n berita di blog sendiri..
kerjaannya kalo baru buat blog ya coba2 posting..
hehehehe,,
tapi bentar lagii mau pasang dirumah,,, insyaallah materi blog akan dicoba buat diupdate.